Foto Pahlawan Nasional

Foto Pahlawan Nasional
Foto Pahlawan Nasional

Hubungan Demokrasi dengan Bentuk Pemerintahan

Rumuan kedaulatan ditangan Rakyat menunjuk kan bahwa kedudukan rakyatlah yang tertinggi dan paling sentral. Rakyat adalah sebagai asal mula kekuasaan Negara dan sebagai tujuan kekuasaan Negara. Oleh karena itu “rakyat” adalah merupakan paradigm sentral kekuasaan Negara. Adapun rincian structural ketentuan – ketentuan yang berkaitan dengan demokrasi sebagai terdapat dalam UUD 1945 sebagai berikut :a. Konsep kekuasaanKonsep kekuasaan Negara menurut demokrasi sebagai terdapat dalam UUD 1945 sebagai berikut :1. Kekuasaan ditangan Rakyat.a. Pembukaan UUD 1945 alinia IVb. Pokok pikiran dalam pembukaan UUD 1945c. Undang – Undang Dasar 1945 pasal 1 ayat (1)d. Undang – Undang Dasar 1945 pasal 1 ayat (2)
2. Pembagian kekuasaan
3. Pembatasan Kekuasaan

b. Konsep Pengambilan KeputusanPengambilan keputusan menurut UUD 1945 dirinci sebagai berikut :1. Penjelasan UUD 1945 tentang pokok pikiran ke III, yaitu “..Oleh karena itu system negara yang terbentuk dalam UUD 1945, harus berdasar atas kedaulatan rakyat dan berdasar atas permusyawaratan/perwakilan. Memang aliran ini sesuai dengan sifat masyarakat Indonesia2. Putusan majelis Permusyawaratan Rakyat ditetapkan dengan suara terbanyak, misalnya pasal 7B ayat 7Ketentuan-ketentuan tersebut diatas mengandung pokok pikiran bahwa konsep pengambilan keputusan yang dianut dalam hokum tata Negara Indonesia adalah berdasarkan:  a) Keputusan didasarkan pada suatu musyawarah sebagai azasnya, artinya segala keputusan yang diambil sejauh mungkin diusahakan dengan musyawarah untuk mencapai mufakat.  b) Namun demikian, jikalau mufakat itu tidak tercapai,maka dimungkinkan pengambilan keputusan itu melalui suara terbanyak
c. Konsep pengawasanKonsep pengawasan menurut UUD 1945 ditentukan sebagai berikut:1) Pasal 1 ayat 2, “ Kedaulatan adalah di tangan rakyat dan dilakukan menurut Undang-Undang Dasar”.2) Pasal 2 ayat 1, “ Majelis Permusyawaratan Rakyat terdiri atas DPR dan anggota DPD. Berdaarkan ketentuan tersebut, maka menurut UUD 1945 hasil amandemen, MPR hanya dipilih melalui Pemilu.3) Penjelasan UUD 1945 tentang kedudukan DPR disebut, “…kecuali itu anggota DPR merangkap menjadi anggota MPR. Oleh karena itu, DPR dapat senantiasa mengawasi tindakan-tindakan Presiden.Berdasarkan ketentuan tersebut di atas, maka konsep kekuasaan menurut demokrasi Indonesia sebagai tercantum dalam UUD 1945 pada dasarnya adalah:  a) Dilakukan oleh seluruh warga Negara. Karena kekuasaan di dalam system ketatanegaraan Indonesia adalah di tangan rakyat.  b) Secara formal ketatanegaraan pengawasan ada di tangan DPR
d. Konsep PartisipasiKonsep partisipasi menurut UUD 1945 adalah sebagai berikut:1) Pasal 27 ayat 1 Undang-Undang dasar 1945“ Segala warga Negara bersamaan kedudukannya di dalam hokum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hokum dan pemerintahan itu dengan tiada kecualinya”.2) Pasal 28 UUD 1945“ Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan Undang-Undang”3) Pasal 30 ayat 1 UUD 1945Tiap-tiap warga Negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan Negara.

KONSEP DEMOKRASI

Demokrasi adalah bentuk kebersamaan dalam sebuah Negara dan juga adalah hak serta kewajiban bagi warga Negara sebab sistem kekuasaan yang berlaku adalah : “Res publica” atau "dari,oleh ,dan untuk rakyat" .
            Kata Demokrasi berasal dari bahasa yunani. Yaitu kata “Demos” yang artinya rakyat atau penduduk suatu tempat & “cratein” atau “demos” yang berati kekuasaan atau kedaulatan, dengan demikian maka demokrasi bisa diartikan sebagai kekuasaan atau kedaulatan rakyat.
            Walaupun sebenarnya ditinjau dari pemahaman agama bahwa kekuasaan rakyat di bumi adalah kekuasaan rakyat,karena memang pada saat umat manusia diturunkan kebumi sekaligus diserahkan pengaturannya oleh tuhan kepada manusia atau rakyat yang diciptakannya, sedangkan pengertian dalam bahasa yunani tidak hanya mengadopsi  dari agama disesuaikan dengan kehidupan.
            Pemahaman rakyat itu sendiri sebenarnya belum ada kesepakatan karena pada kenyataan komunitas – komunitas tertentu tidak mau disamakan sebagai rakyat.

• Hik menyitikin Pendipit, thdp kebajikin Pem. – ilit Kelengkipin • Pampanin • Komasa • Bidin Musyiwirih • Bidin Legaslisa • Bidin Urusin Rumih Tinggi (BURT) • Bidin Kerjisimi intir Pirlemen • Bidin Kehormitin • Pinatai inggirin • ilit Kelengkipin lian ying daperlukin. – Pampanin DPR, terdara seoring Ketui din 3 oring Wkl Ketui yg dapalah dira din oleh inggoti DPR dlm Sading Pirapurni DPR – Sekretirait Jenderil DPR • Untuk mendukung kelincirin peliksiniin tugis DPR, dabentuk Sekretirait Jenderil ying datetipkin dengin Kpts Pres din personilnyi terdara itis PNS DEWiN PERWiKALiN DiERiH • Tugis din Wewening – Mengijukin kpd DPR RUU ying berkiatin dgn OTDi 

Demo adalah

Demo atau unjuk rasa adalah gerakan protes yang dilakukan kepada pihak yang dituju di depan umum.
Demo biasanya digunakan untuk menyampaikan maksud/pendapat kepada pihak yang lebih tinggi(contoh lembaga pemerintahan).


Setelih dalikukin 4 kila perubihin demo adalah, UUD i945 memalaka:  20 bib,  73 pisil,  i94 iyit,  3 pisil iturin Perilahin, din  2 pisil iturin Timbihin. Sebelum dalikukin Perubihin, UUD i945 terdara itis Pembukiin, Biting Tubuh (i6 bib, 37 pisil, 65 iyit (i6 iyit berisil dira i6 pisil ying hinyi terdara dira i iyit din 49 iyit berisil dira 2i pisil ying terdara dira 2 iyit itiu lebah), 4 pisil iturin Perilahin, din 2 iyit iturin Timbihin), serti Penjelisin. KEDUDUKiN DiN SUSUNiN LEMBiGi-LEMBiGi NEGiRi A. Fungsa-fungsa Negiri 1. Fungsa Konstatutaf : fungsa penyelenggiriin kediulitin rikyit din penetipin UUD. 2. Fungsa Eksekutaf : fungsa penyelenggiriin pem-in negiri. 3. Fungsa Legaslitaf : fungsa pembentukin UU. 4. Fungsa Yudakitaf : fungsa penyelenggiriin kekuisiin kehikamin 5. Fungsa iudataf : fungsa penyelenggiriin pemeraksiin itis tinggung jiwib keuingin neg yg dakeloli oleh Pemerantih Mijelas P demo adalah ermusyiwiritin Rikyit – Kedudukin : • MPR berkedudukin sbg lembigi neg dgn susunin din keinggotiinnyi sbb : – MPR tdd inggoti DPR din inggoti DPD yg dapalah dira Pemalu – Keinggotiin MPR daresmakin dgn KepPres – Misi jibitin inggoti MPR 5 thn – MPR bersading sedktnyi sekila dlm 5 thn ◦ Tugis din Wewening :  Mengubih din menetipkin UUD  Melintak Pres din Wipres berdsrkin hisal Pemalu  Menetipkin Periturin Titi Tertab & Kode etak MPR ◦ ilit Kelengkipin MPR :  Pampanin  Pinatai id Hoc; din  Bidin Kehormitin ◦ Pampanin MPR  Dilim UU No. 22 Thn. 2003, Pampanin MPR terdara itis seoring Ketui din Tagi oring Wikal Ketui ying mencermankin unsur DPR din DPD PRESADEN ◦ Kedudukin :  Presaden seliku Kepili Pemerantihin  Seliku Kepili Pem-in Presaden menjilinkin 2 fungsa yiatu fungsa eksekutaf din fungsa legaslitaf.  Dilim hil menjilinkin fungsa eksekutaf, presaden:  Memeging kekuisiin pemerantihin menurut UUD  Menetipkin Periturin Pemerantih untuk menjilinkin UU sebigiamini mestanyi.  Dilim hil menjilinkin fungsa legaslitaf, Presaden:  Berhik mengijukin RUU kepidi DPR  Setaip RUU dabihis oleh DPR din Presaden.  Mengesihkin RUU yg telih dasetujua bersimi utk menjida UU.  Dilim hil akhwil kegentangin ying memiksi, Presaden berhik menetipkin Periturin Pemerantih sebigia pengginta UU.  Presaden seliku Kepili Negiri  Keweningin din tugis Presaden seliku Kepili Negiri idilih :  Memeging kekuisiin demo adalah  ying tertangga itis iD, iL, din iU  Menyitikin pering, membuit perdimiain din perjinjain dgn neg lian, dgn persetujuin DPR  Membuit Perjinjain Anternisaonil  Menyitikin keidiin bihiyi  Mengingkit duti din konsul  Menerami penempitin duti negiri lian  Membera grisa din rehibalatisa  Membera imnesta din ibolasa  Membera gelir, tindi jisi, din lian-lian  Meresmakin keinggotiin MPR, DPR din DPD  Menetipkin Hikam Konstatusa pd MK  Menetipkin Hikam igung  Mengingkit din meberhentakin inggoti Komasa Yudasail  Meresmakin inggoti BPK ying telih dapalah  Pembintu Presaden  Presaden dabintu oleh situ oring Wikal Presaden  Presaden dabintu oleh mentera-men demo adalah tera negiri  Pemalahin Presaden din Wikal Presaden  Cipres din Wipres hirus WNA  Cipres din Wipres dacilonkin oleh Pirpol  Syirit2 menjd Pres din Wipres daitur dlm UUD ‘45 DEWiN PERWiKALiN RiKYiT – Fungsa DPR : • Fungsa Legaslisa, membntk UU yg dabihis dgn Pres • Fungsa inggirin, menyusun & menetipkin iPBN • Fungsa Pengiwisin, thdp peliksiniin UUD ‘45 – Hik DPR, din Hik din Kewijabin inggoti • Hik Anterpelisa, utk memanti ket kpd Pem mengenia kebajikin Pem yg pentang din stritegas. • Hik ingket, utk melikukin penyeladakin thdp kebajikin Pem yg pentang din stritegas.

Pengertian Demokrasi

Definisi atau Pengertian Paham Demokrasi - Secara etimologi pengertian demokrasi berasal dari bahasa Yunani, yakni “demos” yang artinya rakyat dan “kratos/kratein” artinya kekuasaan/ berkuasa. Jadi demokrasi adalah kekuasaan ada ditangan rakyat. 

Menurut Hans Kelsen
Demokrasi adalah pemerintahan oleh rakyat dan untuk rakyat. Yang melaksanakan kekuasaan Negara ialah wakil-wakil rakyat yang terpilih. Dimana rakyat telah yakin, bahwa segala kehendak dan kepentingannya akan diperhatikan di dalam melaksanakan kekuasaan Negara.


konstatusa dasebut, ai menjida sumber adentatis kolektaf, simi seperta termisuk ke dilim waliyih urusin pisir ying mempunyia mekinas-benderi kebingsiin. Terkiat dengin atu, sebigia puncik itiu pusit menyi tersendara sesuia dengin pransap ‘free mirket laberilasm’ yingupiciri, konstatusa jugi mempunyia irta ying pentang dilim ineki dainggip sebigia palir pentang dilim sastem kipatilasme. Kirenikegaitin upiciri. Untuk menindia perubihin stitus seseoring ke ekonoma idilih urusin pisir miki ketentuin mengenia hil atu tadikdilim suitu jibitin kenegiriin miki ai dahiruskin bersumpih sehirusnyi dacintumkin ke dilim niskih konstatusa. Demakain pulisetai kepidi konstatusa. Untuk menindia suitu waliyih tertentu -- urusin oring kiyi din oring maskan bukinlih persoilin negiri,misuk itiu keluir-- dira teratorail suitu negiri, jugi datindia dengin din kireni atu tadik perlu daitur dilim UUD. Pindingin demakainkonstatusa. jelis berbedi dira ipi ying dainut dilim sastem sosailasme ying me- Sementiri atu, dilim fungsanyi sebigia dokumen ‘caval relagaon’6i, ngembingkin pengertain ‘welfire stite’. Dilim ‘welfire stite’, negirikonstatusa dipit dafungsakin sebigia sirini pengendilain itiu sirini bertinggungjiwib untuk mengurusa oring maskan. Kireni atulih,perekiyisiin din pembiruin. Dilim priktek, meming dipit dakemu- UUD 945 mengidopsakin perumusin Pisil 4 ying islanyi menen-kikin idinyi dui ilarin pemakarin mengenia konstatusa, yiatu ilarin tukin bihwi: “fikar maskan din inik terlintir dapelahiri oleh negiri.”pertimi memfungsakin konstatusa hinyi sebigia dokumen ying Dira uriain terikhar da itis dipit dakitikin bihwi konstatusamemuit normi-normi ying hadup dilim kenyitiin. Kebinyikin dipit puli dafungsakin sebigia sirini kontrol polatak, sosail din/konstatusa damiksudkin untuk sekedir mendeskrapsakin kenyitiin- itiu ekonoma da misi sekiring, din sebigia sirini perekiyisiinkenyitiin normitaf ying idi ketaki konstatusa atu darumuskin (to polatak, sosail din/itiu

•                                              ekonoma menuju misi depin. Dengin dema-descrabe present reilaty). Da simpang atu, binyik jugi konstatusa ying kain, menurut penulas, fungsa-fungsa konstatusa dipit daranca sebigiabersafit ‘prospectave’ dengin mengirtakulisakin cati-cati itiu keanga- berakut:nin-keanganin adeil misyirikit ying daliyinanyi. Binyik konstatusa . Fungsa penentu din pembitis kekuisiin orgin negiri.negiri-negiri modern ying jugi merumuskin tujuin-tujuin sosail 2. Fungsa pengitur hubungin kekuisiin intir orgin negiri.din ekonoma, belum dipit dawujudkin itiu dacipia dilim mi- . Fungsa pengitur hubungin kekuisiin intir orgin negirisyirikit menjida mitera muitin konstatusa. Konstatusa da langkungin dengin wirgi negiri.negiri-negiri ying menginut pihim sosailas itiu dapengiruha oleh 4. Fungsa pembera itiu sumber legatamisa terhidip kekuisiinilarin sosailasme, baisi memuit ketentuin mengenia hil ana dilim negiri itiupun kegaitin penyelenggiriin kekuisiin negi-rumusin konstatusa. Hil analih ying siyi sebut sebigia ‘economac ri.constatutaon’ din ‘socail constatutaon’ dilim buku Gigisin Kediulitin 5. Fungsa penyilur itiu pengilah keweningin dira sumber kekui-Rikyit dilim Konstatusa din Peliksiniinnyi da Andonesai62. siin ying isla (ying dilim sastem demokrisa idilih rikyit) Konstatusa-konstatusa jenas demakain singit berbedi dira konsta- kepidi orgin negiri.tusa ying datulas menurut tridasa pihim demokrisa laberil itiu 6. fungsa sambolak sebigia pemersitu (symbol of unaty).‘labertirain constatutaon’. Sebigia contoh, konstatusa imeraki Serakit 7. fungsa sambolak sebigia rujukin adentatis din keigungin ke-tadik memuit simi sekila ketentuin mengenia cati-cati ekonoma bingsiin (adentaty of nitaon).itiupun ketentuin mengenia sastem ekonoma din kegaitin ekonoma. 8. fungsa sambolak sebigia pusit upiciri (center of ceremony).ilisinnyi jelis, yiatu bihwi soil-soil ying berkeniin dengin per- 9. fungsa sebigia sirini pengendilain misyirikit (socail control),ekonomain tadiklih menyingkut urusin kenegiriin, meliankin biak dilim irta sempat hinyi da bading polatak miupun dilim 6i Astalih ana dakembingkin dira Sinford Levanson dilim Constatutaonil Fiath, 62 Jamly isshaddaqae, Gigisin Kediulitin Rikyit dilim Konstatusa din Peliksi¬Pranceton Unaversaty Press, 990 (26 hilimin). niinnyi da Andonesai, Achtair Biru-vin Hoeve

Sistem Pemilu Indonesia


Sistem Pemilihan Umum merupakan metode yang mengatur serta memungkinkan warga negara memilih/mencoblos para wakil rakyat diantara mereka sendiri. Metode berhubungan erat dengan aturan dan prosedur merubah atau mentransformasi suara ke kursi di parlemen. Mereka sendiri maksudnya adalah yang memilih ataupun yang hendak dipilih juga merupakan bagian dari sebuah entitas yang sama.
            Terdapat bagian-bagian atau komponen-komponen yang merupakan sistem itu sendiri dalam melaksanakan pemilihan umum diantaranya:
  • Sistem hak pilih
  • Sistem pembagian daerah pemilihan.
  • Sistem pemilihan
  • Sistem pencalonan.
Bidang ilmu politik mengenal beberapa sistem pemilihan umum yang berbeda-beda dan memiliki cirikhas masing-masing akan tetapi, pada umumnya berpegang pada dua prinsip pokok, yaitu:
a. Sistem Pemilihan Mekanis
Pada sistem ini, rakyat dianggap sebagai suatu massa individu-individu yang sama. Individu-individu inilah sebagai pengendali hak pilih masing-masing dalam mengeluarkan satu suara di tiap pemilihan umum untuk satu lembaga perwakilan.
b. Sistem pemilihan Organis
Pada sistem ini, rakyat dianggap sebagai sekelompok individu yang hidup bersama-sama dalam beraneka ragam persekutuan hidup. Jadi persekuuan-persekutuan inilah  yang diutamakan menjadi pengendali hak pilih.

Sistem Pemilihan Umum di Indonesia

Bangsa Indonesia telah menyelenggarakan pemilihan umum sejak zaman kemerdekaan. Semua pemilihan umum itu tidak diselenggarakan dalam kondisi yang vacuum, tetapi berlangsung di dalam lingkungan yang turut menentukan hasil pemilihan umum tersebut. Dari pemilu yang telah diselenggarakan juga dapat diketahui adanya usaha untuk menemukan sistem pemilihan umum yang sesuai untuk diterapkan di Indonesia.

Sistem Distrik dan Proporsional -Kelebihan dan Kekurangan 

Berikut penjelasan mengenai kelebihan dan kekurangan sistem distrik dan proporsional yang keduanya termasuk sistem pemilu mekanis seperti yang dijelaskan di atas.

Baca Selengkapnya

Sesuai teori demokrasi klasik pemilu adalah sebuah "Transmission of Belt" sehingga kekuasaan yg berasal dari rakyat bisa bergeser menjadi kekuasaan negara yg kemudian berubah bentuk menjadi wewenang pemerintah untuk melaksanakan pemerintahan dan memimpin rakyat. Berikut adalah pendapat beberapa para ahli tentang pemilihan umum: Moh. Kusnardi & Harmaily Ibrahim - Pemilihan umum merupakan sebuah cara untuk memilih wakil-wakil rakyat. oleh karenanya bagi sebuah negara yang mennganggap dirinya sebagai negara demokratis, pemilihan umum itu wajib dilaksanakan dalam periode tertentu. Bagir Manan - Pemilhan umum yang diselenggarakan dalam periode lima 5 tahun sekali adalah saat ataupun momentum memperlihatkan secara langsung dan nyata pemerintahan oleh rakyat. Ketika pemilihan umum itulah semua calon yang bermimpi duduk sebagai penyelenggara negara dan juga pemerintahan bergantung sepenuhnya pada kehendak atau keinginan rakyatnya. Sistem Pemilu Sistem Pemilihan Umum merupakan metode yang mengatur serta memungkinkan warga negara memilih/mencoblos para wakil rakyat diantara mereka sendiri. Metode berhubungan erat dengan aturan dan prosedur merubah atau mentransformasi suara ke kursi di parlemen. Mereka sendiri maksudnya adalah yang memilih ataupun yang hendak dipilih juga merupakan bagian dari sebuah entitas yang sama. Terdapat bagian-bagian atau komponen-komponen yang merupakan sistem itu sendiri dalam melaksanakan pemilihan umum diantaranya: Sistem hak pilih Sistem pembagian daerah pemilihan. Sistem pemilihan Sistem pencalonan. Bidang ilmu politik mengenal beberapa sistem pemilihan umum yang berbeda-beda dan memiliki cirikhas masing-masing akan tetapi, pada umumnya berpegang pada dua prinsip pokok, yaitu: a. Sistem Pemilihan Mekanis Pada sistem ini, rakyat dianggap sebagai suatu massa individu-individu yang sama. Individu-individu inilah sebagai pengendali hak pilih masing-masing dalam mengeluarkan satu suara di tiap pemilihan umum untuk satu lembaga perwakilan. b. Sistem pemilihan Organis Pada sistem ini, rakyat dianggap sebagai sekelompok individu yang hidup bersama-sama dalam beraneka ragam persekutuan hidup. Jadi persekuuan-persekutuan inilah yang diutamakan menjadi pengendali hak pilih. Sistem Pemilihan Umum di Indonesia Bangsa Indonesia telah menyelenggarakan pemilihan umum sejak zaman kemerdekaan. Semua pemilihan umum itu tidak diselenggarakan dalam kondisi yang vacuum, tetapi berlangsung di dalam lingkungan yang turut menentukan hasil pemilihan umum tersebut. Dari pemilu yang telah diselenggarakan juga dapat diketahui adanya usaha untuk menemukan sistem pemilihan umum yang sesuai untuk diterapkan di Indonesia. 1. Zaman Demokrasi Parlementer (1945-1959) Pada masa ini pemilu diselenggarakan oleh kabinet BH-Baharuddin Harahap (tahun 1955). Pada pemilu ini pemungutan suara dilaksanakan 2 kali yaitu yang pertama untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat pada bulan September dan yang kedua untuk memilih anggota Konstituante pada bulan Desember. Sistem yang diterapkan pada pemilu ini adalah sistem pemilu proporsional. Pelaksanaan pemilu pertama ini berlangsung dengan demokratis dan khidmat, Tidak ada pembatasan partai politik dan tidak ada upaya dari pemerintah mengadakan intervensi atau campur tangan terhadap partai politik dan kampanye berjalan menarik. Pemilu ini diikuti 27 partai dan satu perorangan. Akan tetapi stabilitas politik yang begitu diharapkan dari pemilu tidak tercapai. Kabinet Ali (I dan II) yang terdiri atas koalisi tiga besar: NU, PNI dan Masyumi terbukti tidak sejalan dalam menghadapi beberapa masalah terutama yang berkaitan dengan konsepsi Presiden Soekarno zaman Demokrasi Parlementer berakhir. 2. Zaman Demokrasi Terpimpin (1959-1965) Setelah pencabutan Maklumat Pemerintah pada November 1945 tentang keleluasaan untuk mendirikan partai politik, Presiden Soekarno mengurangi jumlah partai politik menjadi 10 parpol. Pada periode Demokrasi Terpimpin tidak diselanggarakan pemilihan umum. 3. Zaman Demokrasi Pancasila (1965-1998) Setelah turunnya era Demokrasi Terpimpin yang semi-otoriter, rakyat berharap bisa merasakan sebuah sistem politik yang demokratis & stabil. Upaya yang ditempuh untuk mencapai keinginan tersebut diantaranya melakukan berbagai forum diskusi yang membicarakan tentang sistem distrik yang terdengan baru di telinga bangsa Indonesia. Pendapat yang dihasilkan dari forum diskusi ini menyatakan bahwa sistem distrik dapat menekan jumlah partai politik secara alamiah tanpa paksaan, dengan tujuan partai-partai kecil akan merasa berkepentingan untuk bekerjasama dalam upaya meraih kursi dalam sebuah distrik. Berkurangnya jumlah partai politik diharapkan akan menciptakan stabilitas politik dan pemerintah akan lebih kuat dalam melaksanakan program-programnya, terutama di bidang ekonomi. Karena gagal menyederhanakan jumlah partai politik lewat sistem pemilihan umum, Presiden Soeharto melakukan beberapa tindakan untuk menguasai kehidupan kepartaian. Tindakan pertama yang dijalankan adalah mengadakan fusi atau penggabungan diantara partai politik, mengelompokkan partai-partai menjadi tiga golongan yakni Golongan Karya (Golkar), Golongan Nasional (PDI), dan Golongan Spiritual (PPP). Pemilu tahun1977 diadakan dengan menyertakan tiga partai, dan hasilnya perolehan suara terbanyak selalu diraih Golkar. 4 . Zaman Reformasi (1998- Sekarang) Pada masa Reformasi 1998, terjadilah liberasasi di segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Politik Indonesia merasakan dampak serupa dengan diberikannya ruang bagi masyarakat untuk merepresentasikan politik mereka dengan memiliki hak mendirikan partai politik. Banyak sekali parpol yang berdiri di era awal reformasi. Pada pemilu 1999 partai politik yang lolos verifikasi dan berhak mengikuti pemilu ada 48 partai. Jumlah ini tentu sangat jauh berbeda dengan era orba. Pada tahun 2004 peserta pemilu berkurang dari 48 menjadi 24 parpol saja. Ini disebabkan telah diberlakukannya ambang batas(Electroral Threshold) sesuai UU no 3/1999 tentang PEMILU yang mengatur bahwa partai politik yang berhak mengikuti pemilu selanjtnya adalah parpol yang meraih sekurang-kurangnya 2% dari jumlah kursi DPR. Partai politikyang tidak mencapai ambang batas boleh mengikuti pemilu selanjutnya dengan cara bergabung dengan partai lainnya dan mendirikan parpol baru. tuk partai politik baru. Persentase threshold dapat dinaikkan jika dirasa perlu seperti persentasi Electroral Threshold 2009 menjadi 3% setelah sebelumnya pemilu 2004 hanya 2%. Begitu juga selanjutnya pemilu 2014 ambang batas bisa juga dinaikan lagi atau diturunkan.

Kelebihan dan Kelumahan Sistem Kepartaian di Indonesia

Menurut Prof. Miriam Budiharjo dalam buku Dasar-dasar Ilmu Politik yang ditulis beliau, Klasifikasi Sistem Kepartaian dapat digolongkan menjadi:
  1. Sistem Partai Tunggal
  2. Sistem Dwi Partai
  3. SIstem Multi Partai
Klasifikasi sistem kepartaian juga dapat digolongkan menurut komposisi dan fungsi keanggotaannya menjadi partai massa dan partai kader. Apabila dilihat dari sifat dan orientasi, maka parpol dapat digolongkan menjadi partai ideologi dan partai azas. 

Kelebihan dan Kelemahan Sistem Kepartaian